Petani Indonesia Yang Naik Daun di Amerika Serikat
Philadelphia telah lama dikenal sebagai “gardeners’ paradise.” Musim dingin yang tak terlalu parah, menurut standar East Coast, musim gugur yang relatif panjang dan musim semi yang tidak terlalu basah, membuat budaya agrikultur berkembang pesat di sini.

Kota yang terkenal sebagai The City of Brotherly Love ini juga dikenal para food advocates dengan proposal Healthy Food Financing Initiative-nya kemudian dikembangkan menjadi projek nasional oleh Presiden Obama.
Dukungan pemerintah kota Philly terhadap kegiatan berkebun telah dimulai sejak akhir abad 19, dan terus menguat di bawah pemerintahan Mayor Michael Nutter dengan program Philadelphia Food Charter dan Greenworks, yang bertujuan menjadikan Philly “the greenest city in America. ”
Di antara ratus petani itu terselip petani “berkulit coklat” asal Indonesia, bernama Syarif Syaifulloh. Pria berperawakan sedang ini memulainya sebagai hobi di tahun 2010, dengan sekitar 20 jenis tanaman rumahan seperti cabe, tomat, jagung, kale, brokoli dan pare. “Tujuannya awalnya hanya memanfaatkan halaman di samping dan belakang rumah,” tutur ayah 3 anak ini.

Dengan kesabarannya, pria murah senyum yang akrab disapa “Pak Tani” ini bisa mengolah tanah yang tadinya tandus menjadi subur. “Awalnya memang sangat berat, karena saya harus memilah-milah tanah supaya bersih sebelum menanam bibit. Kadang saya hampir putus asa dengan kondisi alam yang empat musim, terutama cuaca dingin yang sering membuat tanaman layu serta mati. Tapi tantangan yang berat justru menambah semangat untuk selalu mencoba kembali,” ujar kelahiran desa Mendak Banyuwangi, Magelang kelahiran tahun 1970 ini.
Setelah berjalan 4 tahun, Syarif makin mengerti medan dan tanaman organiknya yang berkembang menjadi 40 jenis, termasuk tanaman yang “sulit” seperti blackberry dan strawberry. Uniknya, dia tidak menjual hasil panenannya, meskipun sayuran organik di Philadelphia tergolong mahal. Dua batang brokoli organik misalnya bisa mencapai $3 di supermarket-supermarket.
Pria yang juga hobi berpantomim dan sering pentas di berbagai kota di Pantai Timur ini lebih suka mengundang komunitas Indonesia untuk memetik sendiri sayuran organik di kebunnya, dan berbagi kegembiraan dengan mereka. “Ada rasa kepuasan tersendiri bisa ikut bersumbangsih membagikan hasil sayuran kepada sesama perantau,” ujarnya sambil tersenyum.

Pria yang juga piawai melukis, fotografi dan menulis ini tak pelit berbagi ilmu berkebunnya kepada siapa saja yang membutuhkannya. “Jika mereka jauh, biasanya saya memberikan pemikiran lewat dunia maya terutama lewat facebook,” katanya sambil tertawa.
Karena tampilannya yang unik, dan tentunya juga karena gratis, hasil kebun pak tani pun sering hadir di berbagai acara-acara komunitas, seperti di mesjid, gereja, ulang tahun, bahkan juga di acara Pesta Rakyat di Philadelphia menyambut tujuhbelasan Agustus lalu.
Namanya pun kian populer dan ia telah dipublikasikan di sedikitnya 4 media di Amerika. Tak hanya itu, sebuah penerbit buku di Philadelphia baru-baru ini mengajaknya menulis buku dua bahasa tentang pendidikan berkebun untuk anak.
Way to go, Pak Tani. We are so proud of you!! (Indah Nuritasari)
