Tiga Pria Transgender Menang Perkara di Malaysia
Tiga lelaki transgender memenangkan perkara di majelis tinggi Malaysia dan diizinkan mengenakan pakaian wanita.

Associated Press mengabarkan Jumat (7/11/2014), tiga hakim tinggi secara bulat memutuskan bahwa Hukum Syariah di Negeri Sembilan, diskriminatif. “Ini benar-benar penghinaan, opresif dan tidak berperikemanusiaan,” kata Mohammad Hishammudin Mohamad Yunus, salah satu hakim yang menangani kasus itu.
Menurut Hishammudin, Hukum Islam diterapkan untuk mencegah kegiatan homoseksual dan lesbian, agar tak menyebarkan virus HIV. “Dan kasus ini tidak berhubungan dengan homoseksual,” katanya. “Kasus ini menyangkut pria dengan kondisi medis,” ujar Hishammudin.
Kasus ini menyangkut tiga lelaki perias artis yang menjalani suntikan hormon wanita. Sehari-hari, mereka bermaksud mengenakan pakaian wanita. Namun niat itu ditolak majelis rendah pada 2012, dengan alasan mereka terlahir sebagai lelaki. Karena beragama Islam, mereka harus taat mengikuti hukum Syariah Islam. Setelah diperiksa dokter dan dinyatakan menderita kelainan gender, mereka pun naik banding ke majelis tinggi dan menang.
“Kami berterima kasih dan ini merupakan kemenangan hak asasi,”’ kata Nisha Ayub, aktivis pembela transgender. Pemerhati Hak Asasi Manusia juga lega, sebab Malaysia dikenal sebagai salah satu negara yang memperlakukan transgender dengan buruk.
Tiga belas negara bagian Malaysia melarang lelaki Muslim mengenakan pakaian wanita. Tiga lainnya menerapkan hukum kriminal bagi wanita yang mengenakan pakaian lelaki. Malah, sejumlah wanita transgender dimasukkan ke penjara pria selama tiga tahun, dan banyak di antaranya mengalami pelecehan seksual oleh para sipir penjara dan tahanan lelaki. Juni lalu, 16 wanita transgender ditangkap dalam sebuah pesta pernikahan.