top of page

Surat Terbuka Martin Aleida Buat Presiden Joko Widodo

By: Martin Aleida

Rapopo yang baik, aku tahu kau baru saja pulang dari Tiongkok. Kata penyair Boeyoeng Saleh suatu ketika: datanglah ke Tiongkok/ tengok hari esok! Apa yang engkau saksikan di sana, di negeri yang penuh pergolakan itu?

Kemarin, bersama dengan lebih seribu kawan dan teman, aku nonton The Look of Silence (Senyap) arahan Joshua Oppenheimer, dibantu sejumlah anak muda yang mempertaruhkan nyawa untuk mengungkapkan kebenaran di negerinya sendiri. Mereka menyabung nyawa karena film dokumenter ini memportontonkan kebiadaban tiada tara.

silence.jpg

Si jagal mengaku meminum darah korban supaya tangguh sebagai pembunuh, yang fasis Nazi sekalipun tak melakukannya. Dalam film itu dikisahkan dengan mengetuk hati tentang Adi Rukun yang mengembara mencari siapa dan bagaimana abangnya, Ramli, dibinasakan.

Mengharukan, dia mengelana mencari seraya menawarkan jasa kaca mata kepada orang-orang yang sudah uzur dan hidup berjaya ketika Ramli yang sudah terluka parah dikatakan para algojo akan membawanya ke rumahsakit, tapi nyatanya disembelih dan dibuang ke arus deras sungai. Film ini sungguh kuat, Rapopo.

Tiap gambar Adi, di benakku mekar beribu bayangan tentang pergulatan hati beribu orang seperti Adi dengan setan yang bekerja dengan birahi kebinatangan dan tak kenal menyesal atas nama yang mereka sebut Tuhan. Rapopo yang bersahaja, kudengar kau akan diundang menyaksikan film itu dan mengatakan sesuatu seperti yang telah kukatakan.

Film itu tak selamanya perih memiuh perasaan. Ada yang menggelitik. Ibunda Adi seorang yang lebih tua dari Emakku (kalau dia masih hidup) adalah perempuan yang hidup sehat dalam kerutan kulitnya, tapi tangguh dan tabah. Kukira ibu itu berasal dari tanah Jawa, mungkin Solo. Bahasa ngoko mengalir segar, menggelitik.

Tontonlah Rapopo. Di antara timbunan pekerjaanmu sisihkanlah waktu, tontonlah, ajak Jeng Susi, juga istri dan anakmu. Sumpah, aku takkan mendesakmu meminta maaf kepada jutaan korban semacam Adi.

Aku penulis, ingin mati bersama kata, yang kupinta cuma ini: tambahkan versi korban mengenai 65-66 ke dalam buku putih yang jadi dokumen negara sejak berpuluh tahun lalu, dan buang bagian yang cuma muslihat rezim sebelummu, sebelum kami para pemujamu. Rapopo, tontonlah, tidak untuk mencari air mata tapi mengulurkan tangan kepada korban keganasan dalam peradaban kita yang cacat.

Salam hangatku


Follow Us
  • Facebook Classic
  • Twitter Classic
  • Google Classic

© 2014 design by Didi Prambadi, Indonesian Lantern Media LLC. USA

  • Facebook Classic
  • Twitter Classic
  • Google Classic
  • RSS Classic
bottom of page