Jumlah Perokok Wanita di Arab Saudi Meningkat
Jumlah wanita Arab perokok Sisha meningkat cukup tajam, begitu juga perokok tembakau.
Arab News mengabarkan Rabu (12/11/2014), penelitian Kementerian Kesehatan Saudi menyebut remaja wanita makin banyak. ‘’Jumlahnya perokok Sisha di kalangan remaja putri cenderung naik sejak lima tahun belakangan,’’ tutur Azeezh Nofal, wartawati Saudi. Meski wanita Saudi tak suka merokok namun banyak di antara mereka kini menghisap Sisha untuk menghilangkan lelah sehabis bekerja. Aesha Al-Omari, wanita Saudi lainnya mengaku ia merokok Sisha bersama sejumlah temannya dan kini ketagihan. ‘’Suami saya malah mendorong untuk terus merokok,’’ kata Aesha.

Sisha atau Hooka adalah rokok khas Arab yang dibumbui berbagai macam aroma. Mulai dari rasa strawberi, jeruk atau semangka dan blewah. ‘’Harganya berkisar antara 200 Riyal sampai 1000 Riyal (sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta lebih),’’ kata Amer Ali salah satu pemilik toko penjual Sisha.
Dr. Ali Zaeiri, seorang konsultan dan psikolog di Pusat Al-Nakheel di Jeddah menyebutkan, bahwa wanita perokok Sisha hanya sebagai simbol status saja. ‘’Sekedar gengsi agar disebut kaya,’’ katanya. Sementara Sabbah Zahhar, ahli sosial menyebut bahwa wanita perokok Sisha ingin menunjukkan pemberontakan diri terhadap kultur dan kehidupan Arab.
‘’Pelajar wanita yang merokok Sisha ingin membuktikan persamaan gender dengan kaum pria Arab yang mendominasi aspek-aspek kehidupan,’’ katanya. ‘’Pengangguran, kekosongan emosi akibat perceraian dan ikatan keluarga yang tak berfungsi, mendorong wanita Saudi menjadi perokok Sisha. Padahal Sisha lebih berbahaya ketimbang merokok tembakau,’’ tuturnya. Jumlah wanita Arab perokok Sisha meningkat cukup tajam, begitu juga perokok tembakau.

Arab News mengabarkan Rabu (12/11/2014), penelitian Kementerian Kesehatan Saudi menyebut remaja wanita makin banyak. ‘’Jumlahnya perokok Sisha di kalangan remaja putri cenderung naik sejak lima tahun belakangan,’’ tutur Azeezh Nofal, wartawati Saudi. Meski wanita Saudi tak suka merokok namun banyak di antara mereka kini menghisap Sisha untuk menghilangkan lelah sehabis bekerja. Aesha Al-Omari, wanita Saudi lainnya mengaku ia merokok Sisha bersama sejumlah temannya dan kini ketagihan. ‘’Suami saya malah mendorong untuk terus merokok,’’ kata Aesha.
Sisha atau Hooka adalah rokok khas Arab yang dibumbui berbagai macam aroma. Mulai dari rasa strawberi, jeruk atau semangka dan blewah. ‘’Harganya berkisar antara 200 Riyal sampai 1000 Riyal (sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta lebih),’’ kata Amer Ali salah satu pemilik toko penjual Sisha.
Dr. Ali Zaeiri, seorang konsultan dan psikolog di Pusat Al-Nakheel di Jeddah menyebutkan, bahwa wanita perokok Sisha hanya sebagai simbol status saja. ‘’Sekedar gengsi agar disebut kaya,’’ katanya. Sementara Sabbah Zahhar, ahli sosial menyebut bahwa wanita perokok Sisha ingin menunjukkan pemberontakan diri terhadap kultur dan kehidupan Arab.

‘’Pelajar wanita yang merokok Sisha ingin membuktikan persamaan gender dengan kaum pria Arab yang mendominasi aspek-aspek kehidupan,’’ katanya. ‘’Pengangguran, kekosongan emosi akibat perceraian dan ikatan keluarga yang tak berfungsi, mendorong wanita Saudi menjadi perokok Sisha. Padahal Sisha lebih berbahaya ketimbang merokok tembakau,’’ tuturnya.