top of page

Hani White, wanita Indonesia pertama di kantor Walikota Philadelphia

  • Jan 1, 2016
  • 3 min read

Para imigran asing akan mendapat perhatian lebih besar di Philadelphia. Hal itu akan terwujud dengan terpilihnya Jim Kenney, sebagai Walikota Philadelphia yang terpilih November lalu.

Rabu 30 Desember 2015 lalu, walikota dari Partai Demokrat itu, melantik Miriam Enriquez dan Hani White, sebagai direktur dan deputi direktur kantor Urusan Pelayanan Imigran atau Immigrant Affairs and Services. ’’Kantor baru itu akan mulai berfungsi 4 Januari 2015,’’ tutur Hani White. ‘’Saya baru aktif akhir Januari karena harus menyelesaikan tugas di kantor lama,’’ sambung Hani White, perempuan Indonesia pertama yang menjabat sebagai staf walikota Philadelpia.

Hani White, Deputy Director Immigrant Affairs and Services

Kantor Layanan Imigrasi itu dibentuk agar kaum imigran asing dapat berintegrasi dengan badan-badan dan organisasi serta NGO di Philadelphia. ‘’Misalnya imigran dari Indonesia atau Filipina yang ingin membuka bisnis di kota ini, dapat datang ke kantor kami untuk mendapatkan hasil market research,’’ tutur Hani, ketua Diaspora Indonesia di Philadelphia.

Langkah awal yang menjadi prioritas awal kantor ini adalah menarik kembali Executive Order Mayor of Philadelphia. Dalam surat perintah walikota yang ditanda tangani walikota lama Michael Nutter, 22 Desember lalu itu, petugas kepolisian Philadelphia akan bekerjasama dengan petugas ICE, Immigration and Customs Enforcement untuk menjaring para imigran gelap. ‘’Mereka bisa saling memberi data satu sama lain,’’ tutur Hani.

Untuk itulah, Miriam dan Hani White akan berusaha membatalkan Executive Order itu, sehingga kerjasama itu bisa dibatalkan. ‘’Sehingga polisi Philadelphia tidak dapat menanyakan status imigrasi seorang pengemudi kendaraan, karena hal itu menjadi wewenang ICE,’’ jelas Hani. Sebaliknya, petugas ICE juga tidak bisa meminta data para imigran gelap di tangan kepolisian Philadelphia. ‘’Kami berusaha agar Surat Perintah itu dapat ditarik dalam waktu kurang dari 60 hari,’’ jelas Hani White yang dikenal dekat dengan warga Indonesia di Philadelphia.

Selain itu, Kantor Immigrant Affairs and Services juga ikut menggodok penerbitan Kartu Identitas bagi kaum imigran bersama tim walikota Philadelphia. Masalahnya, menurut Hani, kartu identitas atau Surat Izin Mengemudi imigran itu, harus diterbitkan oleh walikota Philadelphia. Bukan seperti kartu SIM yang kini diterbitkan Pemerintah Pennsylvania atau Federal.

Biaya pembuatan kartu identitas itu sangat mahal karena harus membeli peralatan dan kantornya. ‘’Pemerintah New York mengeluarkan dana hingga $ 22 juta untuk membuat SIM lokal,’’ kata Hani. ‘’Kita mana mampu? Sejumlah sekolah ditutup karena dana pendidikan dikurangi jutaan dolar. Para pendidik bisa protes nanti,’’ kata Hani. Untuk itu, kantor walikota Philadelphia akan mencari alternatif lain, dan berkunjung ke New York untuk melihat fasilitas di sana.

Tugas lain yang tak kalah pentingnya adalah memberi akses lebih luas bagi para imigran asing untuk bekerja sesuai bidang pendidikannya. ‘’Agar mereka tidak frustrasi,’’ kata Hani. Seorang imigran Suriah yang bergelar dokter bisa bekerja di rumah sakit. Atau seorang insinyur dari Indonesia bisa bekerja di kantor besar di Philadelphia.

‘’Kini banyak dijumpai imigran asing bergelar tinggi masih bekerja sebagai pekerja kasar, karena tidak punya akses,’’ kata Hani. ‘’Belum lagi imigran asing yang jadi korban pemerasan dari pengusaha properti karena tidak mengetahui peraturan setempat,’’ ujar Hani sambil menambahkan bahwa jumlah imigran asing sekitar 11% dari 1,5 juta penduduk Philadelphia.

Dilworth Park, Philadelphia

Dan tak kalah pentingnya, membuat Philadelphia sebagai World Heritage City agar lebih banyak dikenal dunia. Tak banyak yang tahu bahwa Philadelphia termasuk dari 250 kota dunia sebagai World Heritage City, sejajar dengan Paris atau Wina. Antara lain lebih menggiatkan festival, pameran kulinari makanan dan acara lainnya. Di antaranya Philadelphia Asian American Film Festival 2015 yang menampilkan Aroma of Heaven: Biji Kopi Indonesia dan Tari Jawa ‘Nawung Sekar’ bekerjasama dengan Dompet Dhuafa USA. ‘’Kalau tidak digiatkan, Philadelphia bisa dicoret dari daftar World Heritage City,’’ tutur Hani White.

Apalagi, Philadelphia akan menjadi jalur Bullet Train. Kereta api super cepat ini akan menghubungkan Washington DC dengan Baltimore, Philadelpia dan New York. ‘’Perjalanan dari Washington DC ke New York bisa ditempuh dalam waktu 27 menit,’’ jelas Hani White, ibu tiga putra ini.

Dan semua itu tak terlepas dari gagasan dan peranan Walikota Philadelphia Jim Kenney. Walikota dari Partai Demokrat berusia 58 tahun ini ternyata sangat mengenal kehidupan imigran asing. Terutama imigran Indonesia. ‘’Beliau suka blusukan di South Philly yang banyak dihuni warga Indonesia,’’ tutur Hani. Maklum Jim Kenney lahir di South Philadelphia, dan ayahnya seorang petugas kebakaran setempat. Jim Kenney, lulusan La Salle University meniti karirnya sebagai anggota Dewan Kota Philadelphia, sebelum terpilih menjadi Walikota Philadelphia menggantikan Mayor Michael Nutter, November lalu.


 
 
 

Comments


Follow Us
  • Facebook Classic
  • Twitter Classic
  • Google Classic

© 2014 design by Didi Prambadi, Indonesian Lantern Media LLC. USA

  • Facebook Classic
  • Twitter Classic
  • Google Classic
  • RSS Classic
bottom of page